Senin, 22 Desember 2014

The Meaning of Life (masih adakah makna dalam hidup?)



Manusia terlahir tanpa adanya kesempatan untuk memilihnya. Kehidupan yang begitu kompleks mengundang banyak sekali pertanyaan, tentang makna dan tujuan, hakikat dan manfaat serta kebebasan dan pertanggung jawaban. Sehingga dalam praktek kehidupan sehari-hari manusia berusaha mencari dan memaham akan hidup agar setidaknya mampu untuk menjawab pertanyaa mendasar yang muncul yakni, kenapa kita mesti hidup?, jika kita hidup kenapa mesti di sini? Apa yang menjadikan hidup ini bernilai?. Banyak manusia tak tahu akan tujuannya dalam hidup, bagi para penganut agama, kehidupan hanyalah sebagai bentuk pengabdian dan penghambaan terhadap sang pencipta, manusia hanyalah individu yang lemah yang segala kehidupannya sudah tertentukan, entah berakhir dalam kesengsaraan atau bersuka cita dalam kebahagiaan. Tetapi hidup bukan hanya soal ibadah kepada sang Pencipta, hidup bukan cuma memahami realitas yang ada, namun hidup juga soal mempertanyaakan akan eksistensi kita sebagai manusia. Dalam istilah Martin Heiddeger, manusia dalam mewujudkan eksistensinya harus menjadi dasein, yakni being yang selalu mempertanyakan keberadaannya, sehingga being tersebut akan selalu diselimuti kegelisahan dan kecemasan sampai akhirnya menuntun dia  kedalam penghayatan terhada dunia dan hidupnya sendiri (in-der-welt-sain).

Dalam hidup, manusia memegang moralitas sebagai instrument pengukur dari suatu tindakan yang baik atau buruk. Moral hadir sebagai sosok yang selalu membayangi  pikiran manusia, moral selalu mencoba mempengaruhi akan setiap hasil dari suatu putusan dan tindakan manusia, meski manusia tidak pernah paham mengapa nilai moral tersebut tercipta. Jika moralitas merupakan bagian dari pedoman hidup manusia, maka apakah dengan demikian nilai moral tersebut dapat memberikan makna bagi kehidupannya. Sepertinya kita bisa mencoba mencari pemahaman akan hidup dari pernyataan Leo Tolstoy, dia mengatakan bahwa aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan dalam hidup, bagaimana cara menjalani hidup, bagiku hidup ini sudah kehilangan makna, sehingga percuma untuk mencari makna di dalam kehidupan yang tak bermakna. Dari perkataannya, mungkin kita akan memahami kehidupan dari perspektif pesimistik, jika kita tidak memahami bagaimana menjalani hidup, lalu untuk apa kita hidup. Pernyataan Tolstoy merupakan salah satu problem dalam pencarian makna hidup yang bagi para kaum stoic hal tersebut hanyalah permasalahan praktis. Takdir kita, bagi stoic, secara lebih luas merupakan sesuatu yang bersifat determinan dan berada diluar kendali kita. Berdasarkan pada ajaran stoiksisme, bahwa kesengsaraan dan keputus-asaan yang kita alami hanya bisa dicegah apabila kita mau merubah sikap kita. Dunia yang kasar sama sekali tidak memberikan penjelasan ataupun justifikasi, yang lambat laun kita pun akan sadar betapa dunia mencampakkan kita.

Bagi sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa hal yang terpenting dalam kehidupan adalah waktu, yang mana mekanisme sistem kerja alam semesta, bahkan kita sebagai manusia adalah hal yang selalu terikat dengan ruang dan waktu. Waktu yang terus bergerak tanpa mengenal rambu-rambu bukanlah sesuatu yang bisa kita kendalikan, dia tidak tajam tapi dia menusuk, dalam hidup kita tidak bisa menggantungkan diri kita padanya, kita bukan temannya, tapi juga bukan musuhnya. Dia tidak berpihak pada siapapun, dan dia tidak mengenal siapapun, kita tidak bisa mendahuluinya tapi kita bisa belajar dari setiap jejak yang ditinggalkannya.

Pada akhirnya manusia tidak akan pernah sampai kepada pemahaman objektif mengenai makna kehidupan, dialketika antara filsafat dan ilmu pengetahuan, juga tidak bisa melahirkan sebuah sintesis yang konkret dalam menjawab pertanyaan kehidupan. Lalu bagaimana dengan agama, bukankah agama telah menyediakan semua jawaban atas pertanyaan kehidupan, bagaimana manusia hidup, apa yang dituju dalam hidup, dan kemana kita akan pergi setelah hidup. Dengan konsep Tuhan yang diyakini dan diimani oleh para penganutnya, maka segala pengetahuan akan konsep kebenaran, kebahagiaan, kebijaksanaan telah tertuang di dalam buku yang mereka sebut sebagi kitab suci. Agama dianggap sebagai salah satu perantara manusia yang berguna dalam memahami arti kehidupan, karena agama diyakini dapat memberikan kedamaian dan ketentraman, hal ini terjadi karena para penganut agama (Yahudi, Islam, Kristen, Hindu, Budha) percaya bahwa setiap kesulitan dan penderitaan dalam hidup merupakan sebuah ujian yang diberikan oleh Tuhan kepada pengikutnya, mereka juga percaya bahwa manusia hidup berdasar pada Grand-Narasi yang dibuat dan telah ditentukan oleh Tuhan, sehingga satu-satunya cara dalam memahami dan menyelami makna dari kehidupan, yakni dengan menjadi hamba dan pengikutnya yang setia. Inilah mengapa agama akan terus bertahan, meski terhimpit oleh perkembangan sains dan teknologi yang mencoba menjawab misteri dari kehidupan manusia.