Manusia
terlahir tanpa adanya kesempatan untuk memilihnya. Kehidupan yang begitu
kompleks mengundang banyak sekali pertanyaan, tentang makna dan tujuan, hakikat
dan manfaat serta kebebasan dan pertanggung jawaban. Sehingga dalam praktek
kehidupan sehari-hari manusia berusaha mencari dan memaham akan hidup agar
setidaknya mampu untuk menjawab pertanyaa mendasar yang muncul yakni, kenapa
kita mesti hidup?, jika kita hidup kenapa mesti di sini? Apa yang menjadikan
hidup ini bernilai?. Banyak manusia tak tahu akan tujuannya dalam hidup, bagi
para penganut agama, kehidupan hanyalah sebagai bentuk pengabdian dan
penghambaan terhadap sang pencipta, manusia hanyalah individu yang lemah yang
segala kehidupannya sudah tertentukan, entah berakhir dalam kesengsaraan atau
bersuka cita dalam kebahagiaan. Tetapi hidup bukan hanya soal ibadah kepada
sang Pencipta, hidup bukan cuma memahami realitas yang ada, namun hidup juga
soal mempertanyaakan akan eksistensi kita sebagai manusia. Dalam istilah Martin
Heiddeger, manusia dalam mewujudkan eksistensinya harus menjadi dasein,
yakni being yang selalu mempertanyakan keberadaannya, sehingga being
tersebut akan selalu diselimuti kegelisahan dan kecemasan sampai akhirnya
menuntun dia kedalam penghayatan terhada
dunia dan hidupnya sendiri (in-der-welt-sain).
Dalam
hidup, manusia memegang moralitas sebagai instrument pengukur dari suatu
tindakan yang baik atau buruk. Moral hadir sebagai sosok yang selalu
membayangi pikiran manusia, moral selalu
mencoba mempengaruhi akan setiap hasil dari suatu putusan dan tindakan manusia,
meski manusia tidak pernah paham mengapa nilai moral tersebut tercipta. Jika
moralitas merupakan bagian dari pedoman hidup manusia, maka apakah dengan
demikian nilai moral tersebut dapat memberikan makna bagi kehidupannya.
Sepertinya kita bisa mencoba mencari pemahaman akan hidup dari pernyataan Leo
Tolstoy, dia mengatakan bahwa aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan dalam
hidup, bagaimana cara menjalani hidup, bagiku hidup ini sudah kehilangan makna,
sehingga percuma untuk mencari makna di dalam kehidupan yang tak bermakna. Dari
perkataannya, mungkin kita akan memahami kehidupan dari perspektif pesimistik,
jika kita tidak memahami bagaimana menjalani hidup, lalu untuk apa kita hidup.
Pernyataan Tolstoy merupakan salah satu problem dalam pencarian makna hidup
yang bagi para kaum stoic hal tersebut hanyalah permasalahan praktis. Takdir
kita, bagi stoic, secara lebih luas merupakan sesuatu yang bersifat determinan
dan berada diluar kendali kita. Berdasarkan pada ajaran stoiksisme, bahwa
kesengsaraan dan keputus-asaan yang kita alami hanya bisa dicegah apabila kita
mau merubah sikap kita. Dunia yang kasar sama sekali tidak memberikan
penjelasan ataupun justifikasi, yang lambat laun kita pun akan sadar betapa
dunia mencampakkan kita.
Bagi
sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa hal yang terpenting dalam kehidupan
adalah waktu, yang mana mekanisme sistem kerja alam semesta, bahkan kita
sebagai manusia adalah hal yang selalu terikat dengan ruang dan waktu. Waktu
yang terus bergerak tanpa mengenal rambu-rambu bukanlah sesuatu yang bisa kita kendalikan,
dia tidak tajam tapi dia menusuk, dalam hidup kita tidak bisa menggantungkan
diri kita padanya, kita bukan temannya, tapi juga bukan musuhnya. Dia tidak
berpihak pada siapapun, dan dia tidak mengenal siapapun, kita tidak bisa
mendahuluinya tapi kita bisa belajar dari setiap jejak yang ditinggalkannya.
